Halut – Pagi yang seharusnya tenang di Kota Tobelo berubah menjadi lanskap kelabu. Abu vulkanik dari erupsi Gunung Dukono kembali mengguyur wilayah tersebut, Jumat (17/4), menciptakan suasana dramatis yang memaksa warga beradaptasi dengan kondisi alam yang tak bersahabat.
Erupsi terjadi sejak Rabu hingga Jumat dini hari pada pukul 06.15 WIT, memuntahkan kolom abu setinggi kurang lebih 1.300 meter di atas puncak. Arah angin yang bergerak ke timur laut membuat sebaran abu meluas dan menyelimuti permukiman, jalan raya, hingga fasilitas umum di Tobelo.
Berdasarkan laporan resmi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), aktivitas vulkanik masih terus berlangsung saat laporan disusun. Intensitas hujan abu bahkan tergolong tebal dan berpotensi meluas ke wilayah lain di Halmahera Utara. “Hujan abu cukup pekat dan masih berlanjut. Masyarakat diminta tetap waspada karena sebarannya bisa berubah mengikuti arah angin,” tulis PVMBG dalam laporan resminya.
Di lapangan, dampaknya langsung terasa. Jarak pandang menurun, aktivitas warga terganggu, dan udara terasa lebih berat untuk dihirup. Sejumlah warga tampak mengenakan masker hingga kacamata, berusaha melindungi diri dari paparan abu vulkanik.
Salah satu warga Tobelo, Tika (21), menggambarkan kondisi pagi itu dengan nada cemas. “Dari pagi sudah gelap seperti mendung, tapi ternyata abu. Jalanan jadi licin dan napas juga terasa sesak kalau tidak pakai masker,” ujarnya.
Keluhan serupa juga datang dari para pekerja jalanan yang tetap harus beraktivitas di tengah kondisi tersebut. Seorang penarik bentor, Ikri (45), mengaku situasi ini cukup menyulitkan pekerjaannya. “Penumpang jadi sepi karena orang takut keluar. Abu juga masuk ke mata, kadang perih sekali. Tapi mau tidak mau tetap jalan cari nafkah,” katanya.
Status Gunung Dukono saat ini berada pada Level II (Waspada). Otoritas mengimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas dalam radius 4 kilometer dari Kawah Malupang Warirang, serta tetap siaga terhadap potensi hujan abu susulan.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus memantau perkembangan aktivitas gunung api tersebut. Warga diminta untuk tetap tenang namun waspada, serta disiplin menggunakan pelindung diri saat beraktivitas di luar rumah.
Di balik kabut abu yang menutupi langit Tobelo, satu hal menjadi jelas bahwa hidup berdampingan dengan alam berarti selalu siap menghadapi kejutan yang datang tanpa aba-aba. (red)














