Hidupkan ‘Spirit Canga’: Komitmen Piet Hein Babua Bawa Kiarono Festival ke Panggung Nasional

banner 120x600

KIERAHAINSIGHT | ​TOBELO – Riuh rendah penutupan Kiarono Festival 2026 bukan sekadar selebrasi usainya sebuah acara. Di balik panggung kebudayaan yang inklusif ini, ada komitmen besar yang sedang ditegaskan: sebuah ikhtiar menembus panggung nasional melalui kolaborasi erat antara kebijakan pemerintah dan gairah generasi muda.

​Mengusung tema “Spirit Canga of Hein Namotemo”, edisi ketiga festival ini menjelma menjadi ruang pertemuan strategis yang dinamis. Berbeda dengan format seremonial kaku, Kiarono Festival tumbuh menjadi gerakan ekonomi kreatif berbasis masyarakat berkat dukungan penuh dan komitmen terbuka dari Bupati Halmahera Utara, Dr. Piet Hein Babua.

​Kehadiran pemerintah daerah dalam memberikan ruang gerak yang luas bagi komunitas kreatif menjadi pembeda utama. Nilai sejarah Spirit Canga etos keberanian dan ketangguhan lokal tidak lagi sekadar masa lalu, melainkan dikonversi menjadi energi penggerak sektor pariwisata kontemporer.

​“Festival ini lahir dari semangat kolektif anak muda untuk menghidupkan kembali nilai budaya dan persaudaraan. Ini adalah gerakan nyata, bukan sekadar seremonial tahunan,” ujar Berto Mene, Pembina Kiarono Festival, Sabtu (23/5). Ia mengapresiasi langkah responsif bupati yang konsisten menaruh perhatian pada ruang ekspresi pemuda.

​Sinyal bahwa festival ini siap naik kelas dipertegas oleh jajaran pemangku kepentingan di tingkat regional. Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Utara, Kris Syamsudin, memberikan apresiasi tinggi atas peningkatan kualitas penyelenggaraan tahun ini.

​Menurut Kris, Kiarono Festival memiliki modalitas yang sangat kuat untuk masuk dalam program nasional Karisma Event Nusantara (KEN) di bawah Kementerian Pariwisata. Namun, catatan regulasi dan teknis tetap menjadi perhatian utama.

​”Potensinya masif untuk bersaing di level nasional. Langkah taktis berikutnya adalah penguatan tata kelola, kurasi kegiatan yang lebih ketat, serta dokumentasi dampak ekonomi yang tercatat secara sistematis,” jelas Kris.

​Menjawab tantangan tersebut, Bupati Piet Hein Babua menegaskan posisi pemerintah daerah. Pemkab Halmahera Utara berkomitmen tidak hanya mengamankan Kiarono sebagai agenda tahunan daerah, tetapi juga menyiapkan infrastruktur kebijakan agar festival ini lolos kurasi nasional. Dukungan ini menjadi bukti nyata bagaimana kepemimpinan daerah bertindak sebagai jembatan bagi potensi lokal menuju panggung yang lebih luas.

​Visi pengembangan pariwisata yang diusung Piet Hein tidak berhenti pada malam penutupan. Dalam sambutannya, ia langsung membentangkan arah strategis untuk penyelenggaraan tahun 2027 dengan meluncurkan tema: “The Power of Homa Debini”.

​Secara filosofis, ini adalah transisi narasi yang matang. Jika Spirit Canga tahun ini menekankan pada aspek keberanian mendobrak dan memulai gerakan, maka Homa Debini di tahun depan akan membawa pesan tentang kedalaman rasa kebersamaan, harmoni sosial, dan persatuan.

​”Tahun 2027, fokus kita adalah memperkuat persatuan dan kolaborasi lintas sektor untuk membangun daerah. Kebudayaan harus menjadi instrumen utama dalam merajut harmoni sosial di Halmahera Utara,” tegas Bupati Piet Hein di hadapan para undangan.

​Momentum penutupan ini turut disaksikan oleh Rektor Universitas Hein Namotemo Dr. Hendriane Namotemo, perwakilan DPRD Provinsi Maluku Utara Debora Tongo Tongo, serta jajaran pimpinan TNI/Polri dan OPD setempat. Kehadiran tokoh-tokoh kunci ini menegaskan bahwa di bawah kepemimpinan Piet Hein, kebudayaan berhasil menjadi ruang inkubator kolaborasi lintas sektor.

​Saat tirai Kiarono Festival 2026 ditutup dengan pertunjukan seni budaya yang memukau, sebuah pesan penting tertinggal di Tobelo: pariwisata Halmahera Utara sedang bergerak ke arah yang lebih terukur dan kompetitif. Cetak biru telah dibuat, dan komitmen telah diikat. (ask)

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *