PT Assyifa Teknologi Nusantara - Jasa Pembuatan Website
PT Assyifa Teknologi Nusantara - Jasa Pembuatan Website
Berita  

‎Festival KEHATIMU ke-4 Dibuka di Hibualamo, Pemkab Halut Serukan Aksi Nyata Jaga Keanekaragaman Hayati

banner 120x600

KIERAHAINSIGHT.ID | Pesan menjaga alam bergema dari Rumah Adat Hibualamo, Kecamatan Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara mengajak masyarakat, terutama generasi muda, mengubah kepedulian terhadap lingkungan menjadi aksi nyata.

‎Pesan tersebut disampaikan Asisten I Bidang Pemerintahan Setda Halut, Jhon Anwar Kabalmay, saat mewakili Bupati Halmahera Utara pada pembukaan Festival Keanekaragaman Hayati Maluku Utara (KEHATIMU) ke-4, Kamis (3/9/2026).

‎Festival yang berlangsung di Rumah Adat Hibualamo itu menjadi ruang pertemuan pemerintah, komunitas, pelajar, mahasiswa, akademisi, dan masyarakat untuk memperkuat edukasi sekaligus gerakan konservasi di Maluku Utara.

‎Dalam sambutannya, Jhon menegaskan bahwa pemerintah daerah menyoroti tiga krisis global yang dampaknya semakin terasa hingga tingkat lokal, yakni perubahan iklim, polusi, dan kehilangan keanekaragaman hayati.

‎Perubahan lingkungan tersebut antara lain ditandai dengan meningkatnya suhu, cuaca ekstrem, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan sumber air, hingga kondisi gelombang laut yang menjadi tantangan bagi masyarakat.

‎“Keanekaragaman hayati ini adalah merupakan fondasi bagi kehidupan kita, karena ia menyediakan udara bersih, air, pangan, obat-obatan, serta menjaga keseimbangan iklim bumi,” tegas Jhon.

‎Menurut dia, kekayaan alam Maluku Utara bukan sekadar panorama yang indah. Hutan tropis, ekosistem pesisir dan laut, serta flora dan fauna yang hidup di dalamnya merupakan bagian dari sistem penyangga kehidupan yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

‎Pemkab Halut juga menyoroti ancaman kebakaran hutan dan lahan yang dapat menyebabkan kerusakan habitat fauna dan hilangnya berbagai jenis flora.

‎Persoalan tersebut menjadi semakin kompleks ketika pemerintah kabupaten/kota menghadapi keterbatasan kewenangan di bidang kehutanan serta keterbatasan sarana dan prasarana pemadaman kebakaran hutan maupun permukiman.

‎Kondisi itu menunjukkan bahwa perlindungan lingkungan membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah.

‎Karena itu, KEHATIMU ke-4 didorong menjadi momentum untuk memperluas partisipasi publik dalam menjaga lingkungan.

‎“Festival ini bukan hanya sebagai tempat untuk merayakan keindahan alam, melainkan sebagai momentum refleksi dan aksi nyata melalui pameran dan edukasi. Kami mengajak masyarakat untuk segera hijrah atau beralih, bukan hanya sebagai pengamat tetapi menjadi pelindung alam yang aktif,” lanjut Jhon.

‎Ketua Panitia Festival KEHATIMU ke-4, Tjut F Bangun, mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang edukasi, aksi, dan kolaborasi, bukan sekadar seremoni.

‎“Festival ini berawal dari semangat bersama untuk menyediakan ruang edukasi, aksi, dan kolaborasi bagi penyelamatan lingkungan di Maluku Utara. Kami ingin anak-anak sekolah, mahasiswa, dan komunitas lokal memiliki panggung untuk belajar sekaligus berekspresi,” ujar Tjut.

‎Keterlibatan generasi muda, kata dia, menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran konservasi sejak dini.

‎Sejumlah kegiatan kreatif disiapkan, mulai dari kuis cerdas cermat, lomba teater, pameran foto hingga kegiatan menggambar bagi anak-anak.

‎“Melalui kompetisi seperti kuis cerdas cermat, lomba teater, pameran foto, hingga kreasi anak menggambar, kami berharap pesan perlindungan alam ini dapat diserap dengan cara yang menyenangkan dan membekas dalam ingatan mereka,” tambahnya.

‎Koordinator Halmahera Burung Indonesia, Benny Siregar, menilai Maluku Utara memiliki posisi penting dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati, namun kawasan tersebut juga menghadapi tekanan ekologis.

‎“Maluku Utara adalah benteng keanekaragaman hayati yang bernilai amat penting, tidak hanya bagi Indonesia tetapi juga dunia. Namun hari ini, kita dihadapkan pada tantangan nyata: dari ancaman krisis iklim, karhutla, hingga berkurangnya keanekaragaman flora dan fauna endemik kita,” kata Benny.

‎Benny menegaskan, konservasi tidak dapat dikerjakan oleh satu lembaga atau kelompok saja. Dibutuhkan keterlibatan pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, komunitas pemuda, akademisi hingga masyarakat adat.

‎“Burung Indonesia meyakini bahwa upaya menjaga benteng alam ini tidak bisa dikerjakan sendirian. Diperlukan kolaborasi lintas pihak pemerintah, lembaga swadaya, komunitas pemuda, akademisi, hingga masyarakat adat—agar perlindungan alam tidak berhenti pada ruang diskusi, melainkan mewujud dalam aksi nyata di lapangan,” tegasnya.

‎Festival KEHATIMU ke-4 berlangsung selama tiga hari, 3–5 September 2026, di Rumah Adat Hibualamo, Tobelo.

‎Rangkaian kegiatan diisi dengan pameran foto konservasi, EXPO pemuda, panggung seni dan budaya, lomba edukatif bagi pelajar, serta talkshow interaktif yang menghadirkan unsur pemerintah daerah, BKSDA, akademisi Universitas Halmahera, dan komunitas lokal.

‎Selain menjadi ruang edukasi lingkungan, festival juga membuka kesempatan bagi komunitas dan peserta untuk memperkenalkan produk khas daerah serta berbagi gagasan mengenai konservasi.

‎Pemilihan Rumah Adat Hibualamo sebagai lokasi festival turut memberikan dimensi budaya dalam gerakan lingkungan. Konservasi ditempatkan bukan hanya sebagai isu ekologis, tetapi juga sebagai bagian dari tanggung jawab sosial dan warisan yang harus diteruskan kepada generasi berikutnya.

‎Dari Tobelo, pesan KEHATIMU ke-4 menjadi tegas: alam tidak cukup hanya diamati dan dikagumi. Keanekaragaman hayati harus dijaga melalui pengetahuan, kolaborasi, dan tindakan nyata. (khi)

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *