KIERAHAINSIGHT.ID | Belajar mencintai alam tak selalu dimulai dari ruang kelas. Di Rumah Adat Hibualamo, Kecamatan Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara, sejumlah anak justru mengenal kekayaan hayati Maluku Utara melalui pensil warna dan gambar burung.
Suasana ceria itu terlihat dalam rangkaian Festival Keanekaragaman Hayati Maluku Utara (KEHATIMU) 2026, Kamis (3/9/2026). Anak-anak duduk lesehan di atas karpet hijau, mengisi sketsa berbagai jenis burung dengan warna-warna pilihan mereka.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari agenda edukasi festival yang dirancang panitia bersama Burung Indonesia untuk memperkenalkan keanekaragaman hayati kepada anak-anak sejak usia dini.
Dengan didampingi relawan dan panitia, peserta diajak mengenali bentuk, corak, serta karakter visual burung-burung khas Indonesia dan Maluku Utara. Pendekatan kreatif itu membuat pesan konservasi terasa lebih dekat dan mudah diterima anak-anak.
Ketua Panitia KEHATIMU, Tjut F Bangun, mengatakan edukasi mengenai keanekaragaman hayati perlu diperkenalkan sejak anak-anak agar kepedulian terhadap lingkungan tumbuh sebagai bagian dari kebiasaan dan karakter generasi mendatang.
“Kami merancang festival ini sebagai ruang inklusif. Dari anak-anak yang mewarnai hingga mahasiswa yang berdiskusi, semua punya peran untuk menyelamatkan lingkungan kita. Lewat kegiatan sederhana seperti mewarnai ini, pesan kelestarian alam bisa tersampaikan dengan menyenangkan,” ujar Tjut.
Menurut dia, pelestarian lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab pegiat konservasi. Kesadaran tersebut perlu dibangun bersama, termasuk melalui kegiatan edukatif yang melibatkan generasi paling muda.
Pesan serupa disampaikan Koordinator Halmahera Burung Indonesia, Benny Siregar. Ia menilai pengenalan satwa melalui aktivitas visual dan permainan kreatif dapat membantu anak-anak mengenali sekaligus membangun kedekatan emosional dengan kekayaan alam di sekitarnya.
“Anak-anak adalah calon penjaga benteng keanekaragaman hayati Maluku Utara di masa depan. Ketika mereka kenal dan bangga dengan burung-burung endemik kita sejak kecil, rasa memiliki itu akan tumbuh membawa dampak panjang bagi pelestarian,” kata Benny.
Kegiatan mewarnai menjadi salah satu agenda edukasi yang menyasar generasi muda dalam Festival KEHATIMU 2026 di Tobelo.
Festival tidak hanya menghadirkan aktivitas kreatif untuk anak-anak. Sejumlah agenda lain juga dikemas untuk memperluas pengetahuan dan kepedulian pelajar terhadap lingkungan, antara lain Kuis Cerdas Cermat KEHATIMU, pameran foto konservasi, serta pentas teater bertema lingkungan.
Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa isu keanekaragaman hayati, dapat disampaikan melalui berbagai pendekatan mulai dari seni, permainan, visual, hingga diskusi.
Di tengah warna-warni gambar burung yang dibuat anak-anak, pesan yang dibangun festival menjadi sederhana: mengenal alam adalah langkah awal untuk mencintainya, dan mencintai alam merupakan fondasi penting bagi upaya menjaganya.
Dari Tobelo, pendidikan konservasi pun tidak berhenti pada pengetahuan tentang nama dan bentuk satwa. Ia mulai ditanamkan melalui pengalaman yang menyenangkan, selembar kertas, sekotak pensil warna, dan imajinasi anak-anak yang kelak akan menjadi generasi penjaga keanekaragaman hayati Maluku Utara. (khi)














