KIERAHAINSIGHT.ID | Hilirisasi kelapa dan pala menjadi salah satu agenda yang didorong Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, memperluas peluang usaha, dan memperkuat pendapatan masyarakat. Pengembangan industri pengolahan dinilai penting agar potensi perkebunan tidak berhenti pada penjualan bahan mentah, tetapi dapat menghasilkan produk bernilai ekonomi lebih tinggi.
Bupati Halmahera Utara, Dr. Piet Hein Babua, M.Si., menyampaikan hal tersebut saat menjadi pembicara dalam Diskusi Panel Akademik Universitas Hein Namotemo (UNHENA) di Kampus Desa Gamsungi, Kecamatan Tobelo, Jumat (9/10/2026). Kegiatan bertema “Potensi Lokal Menuju Ekonomi Berkelanjutan” itu membahas sinergi pemerintah daerah dan perguruan tinggi dalam mengembangkan potensi lokal melalui pendekatan ekonomi biru dan ekonomi hijau.
Piet menekankan bahwa pembangunan ekonomi daerah harus bertumpu pada pemanfaatan sumber daya lokal secara produktif. Selain perkebunan, sektor pertanian, perikanan, kelautan, dan pariwisata juga dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan guna memperkuat perekonomian Halmahera Utara.
“Pembangunan ekonomi Halmahera Utara harus bertumpu pada pemanfaatan potensi daerah secara produktif mulai dari pertanian, perkebunan, perikanan, kelautan, hingga pariwisata. Pengembangan sektor-sektor ini diarahkan untuk menciptakan nilai tambah, memperluas kesempatan kerja, dan meningkatkan pendapatan masyarakat,” ujarnya.
Hilirisasi kelapa dan pala berpotensi membuka ruang pengembangan berbagai produk olahan yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Namun, upaya tersebut membutuhkan dukungan menyeluruh, mulai dari peningkatan kualitas bahan baku, teknologi pengolahan, akses pembiayaan, hingga perluasan pasar.
Pengembangan industri pengolahan juga dapat memperkuat keterlibatan petani dan pelaku usaha lokal dalam rantai ekonomi, mulai dari produksi hingga pemasaran. Dengan demikian, manfaat ekonomi komoditas perkebunan diharapkan tidak hanya berasal dari hasil panen, tetapi juga dari proses pengolahan dan distribusi produk.
Menurut Piet, besarnya potensi sumber daya alam harus diikuti kemampuan mengelolanya agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Tantangan bagi pemerintah daerah tidak hanya terletak pada besarnya potensi sumber daya alam, tetapi pada kemampuan mengelolanya menjadi kegiatan ekonomi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Penguatan sektor unggulan wajib disertai peningkatan mutu produk, pengembangan industri pengolahan, dan keterlibatan langsung masyarakat dalam rantai ekonomi daerah,” tegasnya.
Penguatan hilirisasi tersebut memerlukan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat. Dukungan riset serta inovasi juga dibutuhkan agar pengembangan produk lokal dapat menyesuaikan kebutuhan pasar dan meningkatkan daya saing.
Selain hilirisasi komoditas perkebunan, diskusi akademik UNHENA menyoroti penerapan Blue Economy atau ekonomi biru dan Green Economy atau ekonomi hijau.
Ekonomi biru menekankan pemanfaatan sumber daya laut dan perikanan secara bertanggung jawab. Sementara itu, ekonomi hijau mengarahkan kegiatan ekonomi agar memperhatikan kelestarian lingkungan, efisiensi sumber daya, dan keberlanjutan dalam jangka panjang.
Kedua pendekatan tersebut relevan bagi Halmahera Utara yang memiliki potensi perkebunan, perikanan, kelautan, dan pariwisata. Pengembangan sektor-sektor itu perlu dilakukan dengan memperhatikan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan perlindungan lingkungan.
Rektor UNHENA, Dr. Hendriyane Namotemo, M.M., menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan daerah melalui penelitian, inovasi, dan kontribusi pemikiran akademik.
Menurutnya, kolaborasi dengan pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan diperlukan agar potensi lokal dapat dikembangkan berdasarkan kajian ilmiah dan kebutuhan nyata masyarakat.
Diskusi panel tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan menyambut Dies Natalis ke-11 UNHENA yang dijadwalkan pada 24 November 2026.
Peringatan tahun ini memiliki makna emosional bagi keluarga besar UNHENA karena menjadi Dies Natalis pertama tanpa kehadiran almarhum Ir. Hein Namotemo, M.Sp., yang merupakan pembina sekaligus tokoh pendiri universitas.
“Peringatan tahun ini menjadi momentum yang sangat istimewa sekaligus emosional bagi keluarga besar UNHENA. Meski kini tanpa kehadiran almarhum Hein Namotemo, kami berkomitmen melanjutkan pengabdian di bidang pendidikan dan pembangunan daerah dengan dukungan penuh Pemkab Halmahera Utara serta seluruh pemangku kepentingan,” ujar Hendriyane.
Hendriyane berharap diskusi lintas sektor tersebut dapat mendorong generasi muda berkontribusi dalam pembangunan daerah sekaligus menghasilkan rekomendasi kebijakan berbasis data dan penelitian. (ask)














