Halut – Gelombang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang diberlakukan Pertamina per Minggu (19/4) tak hanya mengguncang dompet warga Jakarta, tapi juga merambat hingga ke pelosok Halmahera Utara, Maluku Utara.
Dampaknya terasa nyata: para sopir angkutan lintas Loloda Utara-Tobelo terpaksa menaikkan tarif transportasi darat demi menutupi biaya operasional yang melambung. “Kenaikan ini sudah melalui kesepakatan bersama dalam pertemuan dan kami berharap para penumpang bisa memahami karena harga BBM sangat mempengaruhi biaya transportasi,” ujar Sahrijan, salah satu peserta pertemuan di Terminal Rawa Jaya, Kecamatan Tobelo, Rabu (15/4), dengan nada penuh harap.
Sebagai konteks, Pertamina resmi menaikkan harga tiga jenis BBM premium per 19 April 2026: Pertamax Turbo, naik dari Rp13.100 menjadi Rp19.400/liter (Jakarta). Dexlite, naik dari Rp14.200 menjadi Rp23.600/liter. Pertamina Dex, naik dari Rp14.500 menjadi Rp23.900/liter Sementara itu, BBM bersubsidi seperti Pertalite tetap Rp10.000/liter dan Pertamax tetap Rp12.300/liter secara nasional.
Namun, untuk wilayah Maluku dan Maluku Utara, harga Dexlite tercatat lebih tinggi, yakni Rp24.150/liter, sementara Pertalite dan Pertamax masing-masing Rp10.000 dan Rp12.600 per liter.
Tekanan ekonomi akibat kenaikan BBM itu mendorong para pengemudi angkutan lintas Loloda Utara-Tobelo menggelar musyawarah. Pertemuan yang dipimpin Michael Tatemba dan dihadiri puluhan sopir ini menghasilkan kesepakatan penyesuaian tarif, baik untuk penumpang maupun angkutan barang. “Ini bukan keputusan sepihak. Kami duduk bersama, hitung ulang biaya solar, perawatan, dan nafkah keluarga. Hasilnya, kami harus menyesuaikan agar roda transportasi tetap berputar,” jelasnya.
Berikut rincian tarif penumpang yang berlaku efektif pasca-kesepakatan:
- Kapa-Kapa s.d. Posi-Posi → Tobelo sebesar000
- Gisi dan Galao → Tobelo sebesar000
- Kailupa s.d. Doitia → Tobelo sebesar000
Tak hanya penumpang, tarif angkutan barang juga mengalami penyesuaian. Berikut beberapa contoh komoditas yang tarifnya diubah:
- Kopra: Rp1.500/kg
- Semen: Rp50.000/sak
- Beras: Rp1.000/kg
- Aqua/Dus: Rp20.000
- Minyak Tanah/Bensin/Galon: Rp30.000
- Kulkas: Rp250.000/unit
- Mesin Cuci: Rp150.000/unit
- Lemari Kaca/Etalase: Rp500.000/unit
- Kursi Sofa: Rp1.000.000/unit
- Titipan/Kiriman (berbagai ukuran): Rp50.000
Di balik angka-angka tarif yang naik, tersimpan cerita humanis tentang ketahanan masyarakat. Para sopir yang sehari-hari mengabdikan diri menghubungkan desa-desa terpencil dengan kota, kini berada dalam posisi sulit: di satu sisi harus menutupi biaya operasional, di sisi lain tak ingin membebani penumpang yang juga sedang berjuang secara ekonomi. “Kami tetap berkomitmen memberikan pelayanan terbaik. Mobil akan tetap layak jalan, sopir tetap ramah, hanya saja, mohon pengertian untuk tarif yang disesuaikan,” pungkas Sahrijan, menutup pernyataannya.
Pemerintah daerah setempat diharapkan dapat memantau dampak kebijakan ini dan mempertimbangkan langkah mitigasi, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah di wilayah terpencil. Sementara itu, warga Loloda Utara dan Tobelo kini mulai beradaptasi dengan realitas baru: transportasi yang lebih mahal, namun tetap menjadi urat nadi perekonomian mereka. (Ask)














