KIERAHAINSIGHT.ID | Pengetahuan tentang keanekaragaman hayati diuji dalam suasana kompetitif di Rumah Adat Hibualamo, Kecamatan Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Sebanyak 18 tim dari berbagai sekolah dan komunitas generasi muda berlaga dalam Lomba Cerdas Cermat Merayakan Keragaman Burung di Indonesia (MKBI) 2026, Jumat (4/9/2026).
Kompetisi tersebut menjadi salah satu agenda edukasi dalam rangkaian Festival Keanekaragaman Hayati Maluku Utara (KEHATIMU) ke-4 yang digelar di Tobelo.
Para peserta berasal dari jenjang SMA, SMK, dan MA serta komunitas generasi muda di Halmahera Utara. Mereka ditantang menguji wawasan mengenai keanekaragaman hayati, burung, konservasi, serta berbagai persoalan lingkungan.
Tercatat, 18 tim yang ambil bagian berasal dari 10 sekolah dan komunitas. SMAN 2 Halut mengirimkan tiga tim, sementara SMAN 1 Halut, SMAN 6 Halut, SMAS Hohidiai Tobelo, SMAS BPD Tobelo Selatan, SMK Nusantara, dan MAS Alkhairaat masing-masing mengirimkan dua tim.
Adapun SMAN 5 Halut, SMK Gotong Royong Tobelo, dan Marahai Community masing-masing mengirimkan satu tim.
Ketua Panitia KEHATIMU 2026, Tjut F Bangun, mengatakan lomba cerdas cermat tidak dirancang semata-mata untuk mencari pemenang. Kompetisi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pengetahuan sekaligus kepedulian pelajar terhadap lingkungan.
“Melalui kompetisi seperti kuis cerdas cermat ini, kami berharap pesan perlindungan alam dan pengetahuan soal kekayaan keanekaragaman hayati Maluku Utara dapat diserap secara mendalam oleh para pelajar,” ungkap Tjut.
Menurutnya, kompetisi edukatif menjadi salah satu cara untuk membuat isu konservasi lebih dekat dengan kehidupan generasi muda. Pengetahuan yang diperoleh di arena lomba diharapkan dapat berkembang menjadi kepedulian dan tindakan nyata dalam menjaga lingkungan.
Koordinator Halmahera Burung Indonesia, Benny Siregar, menilai keterlibatan pelajar dalam agenda konservasi memiliki arti penting bagi masa depan perlindungan keanekaragaman hayati di Maluku Utara.
“Anak-anak muda ini adalah calon pemimpin dan penjaga benteng keanekaragaman hayati Maluku Utara. Ketika mereka dibekali pengetahuan dan kepedulian sejak sekolah, aksi nyata perlindungan alam akan tercipta secara berkelanjutan,” ujar Benny.
Keterlibatan sekolah dan komunitas dalam kompetisi tersebut memperlihatkan bahwa edukasi konservasi dapat dikemas melalui pendekatan yang kompetitif sekaligus menyenangkan.
Para peserta tidak hanya dituntut mampu menjawab pertanyaan dengan cepat dan tepat, tetapi juga memahami pentingnya keberadaan satwa, habitat, dan ekosistem bagi keberlangsungan lingkungan.
Rumah Adat Hibualamo menjadi ruang bertemunya semangat kompetisi dan pendidikan lingkungan. Di tempat yang menjadi salah satu simbol budaya masyarakat Halmahera Utara itu, para pelajar menguji pengetahuan mereka tentang kekayaan alam yang berada di sekitar mereka.
Lomba Cerdas Cermat MKBI 2026 pun menjadi bagian dari pesan besar Festival KEHATIMU: konservasi tidak cukup hanya dibicarakan oleh para pemerhati lingkungan, tetapi perlu dikenalkan sejak dini kepada generasi yang kelak akan menentukan masa depan ekosistem Maluku Utara.
Dari arena perlombaan di Tobelo, pesan itu dirawat melalui cara sederhana namun strategis: mengenal alam, memahami nilainya, lalu menumbuhkan keberanian untuk menjaganya. (khi)














