Hidupkan ‘Spirit Canga’ di Kiarono Festival 2026: Ikhtiar Wabup Kasman Merawat Fondasi Moral Generasi Muda

banner 120x600

KIERAHAINSIGHT.ID | TOBELO – Rumah Adat Hibualamo menjadi saksi bisu bergeloranya kembali ingatan kolektif masyarakat Halmahera Utara. Di bawah temaram lampu Kamis malam (21/5), esensi perjuangan dan persaudaraan masa lalu ditarik kembali ke ranah modernitas melalui Talk Show Kiarono Festival 2026.

Hadir sebagai narasumber utama, Wakil Bupati Halmahera Utara, Dr. Kasman Hi. Ahmad, S.Ag., M.Pd., membedah tema sentral yang sarat makna: “Spirit Canga Of Hein Namotemo”. Di hadapan tokoh adat, pelaku seni, dan generasi muda yang memadati ruang dialog, Kasman tidak hanya berbicara sebagai pejabat publik, melainkan sebagai seorang pemikir yang gelisah akan masa depan kultural daerahnya.

Dalam paparannya yang lugas, Wabup Kasman menegaskan “Spirit Canga Of Hein Namotemo” bukanlah romantisasi sejarah atau sekadar merayakan heroisme masa lalu tanpa arah. Ada transformasi nilai yang harus dilakukan oleh generasi hari ini.

“Selama ini, jika mendengar kata Canga, asosiasi kita sering kali langsung tertuju pada heroisme fisik atau keberanian di medan laga. Hari ini, di panggung Kiarono Festival, kita harus meluruskan itu,” ujar Kasman dengan nada takzim.

“Di era disrupsi digital ini, musuh kita bukan lagi kolonialisme fisik, melainkan amnesia budaya. Spirit Canga modern adalah keberanian untuk mempertahankan integritas, kegigihan untuk berdaya saing secara global, namun tetap tunduk pada prinsip Hein Namotemo yaitu saling menyayangi, merangkul, dan menguatkan sesama anak bangsa.”

Bagi akademisi senior ini, kebudayaan tidak boleh mandek menjadi benda mati di museum. Budaya harus menjadi entitas yang hidup dan bernapas di dalam karakter setiap manusia Halmahera Utara.

“Budaya itu bukan sekadar identitas yang kita pajang saat seremonial setahun sekali. Ia adalah kompas moral. Ketika anak muda kita kehilangan kompas ini, mereka akan mudah terombang-ambing oleh arus zaman yang kian tanpa sekat,” tambahnya.

Geliat dialog malam tersebut terasa hidup. Antusiasme peserta mulai dari tetua adat yang sarat pengalaman hingga pemuda yang haus arah, menciptakan atmosfer diskusi yang cair namun berbobot. Konsep Hein Namotemo benar-benar terestorasi sepanjang acara yang berlangsung tertib dan khidmat tersebut.

Wabup Kasman juga memberikan apresiasi tinggi terhadap pelaksanaan Kiarono Festival yang diinisiasi oleh komunitas lokal. Menurutnya, ruang-ruang dialektika seperti inilah yang akan menyelamatkan warisan leluhur dari kepunahan.

“Melalui panggung festival seperti ini, kita sedang melakukan dua misi besar sekaligus. Pertama, kita mengamankan jangkar tradisi leluhur agar tidak hanyut. Kedua, kita sedang mengirim pesan kepada dunia luar bahwa Halmahera Utara memiliki kekayaan peradaban yang luar biasa dan siap disandingkan di kancah nasional maupun internasional,” tegas Kasman optimis.

Kiarono Festival 2026 pada akhirnya mengirimkan pesan kuat dari Tobelo: bahwa kemajuan pembangunan fisik dan ekonomi di Halmahera Utara tidak boleh menumbalkan akar budayanya. Sinergi antara modernitas dan kearifan lokal adalah harga mati untuk membangun daerah yang berkelanjutan.

Di akhir sesinya, Wabup Kasman menitipkan sebuah pesan reflektif yang mendalam bagi seluruh elemen masyarakat yang hadir hingga akhir acara.

“Pembangunan tanpa fondasi budaya hanya akan melahirkan masyarakat yang maju secara materi, tetapi rapuh secara spiritual dan sosial. Saya ingin melihat generasi muda Halmahera Utara yang menguasai teknologi, yang memimpin di berbagai sektor, namun ketika mereka pulang ke Rumah Adat Hibualamo, mereka tahu persis siapa diri mereka dan nilai apa yang mereka junjung tinggi,” pungkasnya. (ask)

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *