Ombak Tinggi Tewaskan Nelayan 66 Tahun di Perairan Loloda Halmahera Utara

Operasi pencarian yang melibatkan Basarnas, kepolisian, TNI AL, dan masyarakat setempat menjadi bukti nyata gotong royong khas Nusantara.

Ilustrasi: Ombak tinggi di perairan Loloda, Halmahera Utara. (KieraHinsight.id/AI)
Ilustrasi: Ombak tinggi di perairan Loloda, Halmahera Utara. (KieraHinsight.id/AI)
banner 120x600

Halut – Laut kadang memberi, kadang pula mengambil. Jumat (17/4) lalu, Selat Lebeno menjadi saksi bisu bagaimana satu nyawa melayang dihantam gelombang ganas, meninggalkan duka yang dalam bagi keluarga dan warga Desa Salube, Kecamatan Loloda Kepulauan.

Darman (66), seorang kakek yang seharusnya menikmati masa tua dengan tenang, harus berpulang setelah perahu longboat yang ditumpanginya terbalik dihantam ombak tinggi. Tubuhnya ditemukan tim SAR gabungan sekitar pukul 12.00 WIT, hanya 25 meter dari titik kejadian seolah laut enggan melepaskannya terlalu jauh. “Kami Basarnas menyampaikan belasungkawa yang mendalam. Korban ditemukan dalam keadaan meninggal dunia dan langsung dievakuasi ke rumah duka untuk disemayamkan,” ujar Rudin Jasrodji, Kepala Pos SAR Tobelo, dengan nada berat.

Insiden bermula saat Darman dan tujuh warga lainnya berangkat menuju kebun sekitar pukul 16.00 WIT. Langit mungkin tampak bersahabat saat itu, namun laut punya rencana lain. Saat melintasi perairan Pantai Lebeno, ombak besar datang tiba-tiba, menghantam lambung perahu hingga terbalik dalam sekejap.

Tujuh penumpang berhasil berpegangan pada puing atau berenang ke darat. Namun Darman, yang mungkin kelelahan atau terhantam arus, hilang dari pandangan. Warga, perangkat desa, hingga Bhabinkamtibmas segera turun tangan, menyisir perairan hingga pukul 22.00 WIT—namun gelap malam memaksa pencarian dihentikan sementara. “Setelah menerima laporan dari kepala desa, kami segera mengerahkan tim untuk melakukan pencarian hingga korban berhasil ditemukan,” tambah Rudin.

Operasi pencarian yang melibatkan Basarnas, kepolisian, TNI AL, dan masyarakat setempat menjadi bukti nyata gotong royong khas Nusantara. Warga tidak tinggal diam; mereka turun dengan perahu tradisional, menyuarakan nama Darman, berharap ada jawaban dari debur ombak.

Ketika kabar penemuan tiba, bukan sukacita yang meledak, melainkan tangis haru. Darman dipulangkan ke pelukan keluarga, di Desa Salube, untuk disemayamkan sebagaimana adat dan kepercayaan yang dianut.

Di balik tragedi ini, ada pesan penting yang ingin disampaikan para penyelamat: laut tidak bisa diprediksi, namun kewaspadaan bisa menyelamatkan nyawa. “Kami mengimbau masyarakat agar lebih waspada dan menunda aktivitas melaut saat kondisi gelombang tinggi guna mencegah kejadian serupa,” tegas Rudin.

Imbauan ini bukan sekadar formalitas. Ia lahir dari pengalaman pahit, dari nama-nama yang tercatat sebagai korban keganasan alam. (Ask)

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *