KIERAHAINSIGHT.ID | Suara tambur dan erangan salawaku menghentak pelataran Desa Gura, Kecamatan Tobelo. Diiringi tegap langkah tarian perang Cakalele, puluhan simpatisan mengawal langkah Piet Hein Babua menembus barisan Sekretariat DPD II Partai Golkar Halmahera Utara. Sabtu sore (10/10/2026) itu, sebuah pesan politik terkirim terang-benderang tanpa perlu tersirat: penantang telah tiba, dan ia datang untuk menang.
Namun di seberang meja, sang petahana Frans Manery menyambut gelombang itu dengan senyum tenang politisi gaek. Tak ada raut gentar. Hanya ada kalkulasi matang dari seorang nakhoda yang telah dua periode memegang kendali penuh pohon beringin di Halmahera Utara.
Pertarungan memperebutkan takhta DPD II Partai Golkar Halut resmi mencapai titik didihnya. Ini bukan sekadar pergantian kepengurusan rutin, melainkan arena adu gengsi, pengaruh, dan manuver antara dua kader terbaik yang dimiliki Golkar Halut hari ini.
Piet Hein Babua: Sinyal Show of Force dan Garansi 30 Persen Suara
Sejak penjaringan dibuka, Piet Hein Babua tak memberi ruang bagi rivalnya untuk bernapas. Menjadi figur pertama yang mengambil formulir pendaftaran pada Jumat (9/10/2026) melalui tim Liaison Officer (LO) Nofebi Eteua, Ernest Sengi, dan Fridol Soroway, Piet langsung menuntaskan pemberkasan hanya dalam kurun 24 jam.
Proses verifikasi dokumen oleh Sekretaris Steering Committee (SC) Jainudin Tuara berlangsung ketat. Seluruh item mulai dari legalitas KTA, CV, hingga syarat krusial berupa pasokan minimal 30 persen surat dukungan pemilik hak suara diperiksa lembar demi lembar. Panitia menyimpulkan satu kata: sah dan lengkap.
Berdiri di hadapan jajaran pengurus dan pendukungnya, orasi Piet meledak dengan nada penuh percaya diri.
“Hari ini saya berdiri sebagai kader yang siap bertarung dan merebut tampuk kepemimpinan DPD II Partai Golkar! Ini adalah bentuk komitmen nyata saya untuk membesarkan partai. Perjuangan ini tak bisa saya jalani sendiri saya butuh keringat, dukungan, dan solidaritas dari teman-teman sekalian untuk menang,” tegas Piet disambut gemuruh tempita pendukungnya.

Frans Manery: Sikap Ksatria Petahana dan Panggung “Lawan Terberat”
Di hari yang sama, tensi makin membara saat Frans Manery melangkah masuk ke Sekretariat. Memboyong deretan Pengurus Kecamatan (Pincam) dan LO Mujahir Patty, sang Ketua DPD II petahana resmi mendaftarkan diri untuk kembali bertarung.
Diterima oleh jajaran SC William Manery, Jainudin Tuara, dan Faren Sadouw, Frans menegaskan bahwa langkah politiknya bukan dituntun oleh ambisi pribadi, melainkan kepatuhan mutlak pada hierarki dan mekanisme partai.
“Kapan saja diperintah, kami siap. Apabila disetujui untuk maju, kami akan maju. Tetapi jika tidak direstui, kami siap mendukung siapa pun kandidat yang dipercaya. Bagi saya, loyalitas terhadap organisasi adalah yang utama,” ujar Frans diplomatis.
Namun, kejujuran politik Frans di hadapan awak media justru menjadi puncaknya. Dengan gaya panggungnya yang khas berani, santai, namun menghujam, Frans secara terbuka mengakui kekuatan nyata sang rival.
“Sebagai kader beringin, tidak ada kata patah semangat! Kami siap bertarung secara terbuka. Tapi jujur saja, di antara semua yang maju, Piet Hein Babua adalah lawan paling berat yang harus saya hadapi,” seloroh Frans yang seketika mencairkan suasana dan memancing tepuk tangan riuh.
Menghitung Mundur Menuju ‘Hari Penghakiman’
Panitia penjaringan melalui Jainudin Tuara telah mengunci tenggat waktu akhir pengembalian berkas: Senin, 12 Oktober 2026, pukul 17.00 WIT. Masa hitung mundur telah dimulai, dan seluruh dokumen persyaratannya akan diuji di atas meja organisasi.
Meski benturan kepentingan tak terelakkan, Frans Manery menyisipkan pesan mendalam agar turbulensi internal ini tidak meretakkan tembok soliditas partai.
“Siapa pun yang nantinya keluar sebagai pemenang, seluruh anggota partai wajib rapatkan barisan. Fokus utama kita adalah mempertahankan bahkan menambah perolehan kursi Golkar di parlemen, baik kabupaten maupun provinsi,” imbau Frans.
Pertanyaan besarnya kini menggantung di udara Tobelo: Apakah benteng pertahanan sang petahana Frans Manery masih terlalu kokoh untuk ditembus, ataukah manuver cepat Piet Hein Babua berhasil meruntuhkan dominasi lama dan mengukir sejarah baru di DPD II Golkar Halut? (*)














