DI TEMPAT ORANG-ORANG MEMILIH PERGI, MEREKA JUSTRU DATANG

banner 120x600

kierahainsight.id | Halut – Di balik banjir Doitia dan erupsi Gunung Dukono, operasi kemanusiaan BPBD Halmahera Utara menjadi wajah kehadiran Negara dan Daerah di tengah situasi paling genting.

Langit di atas Gunung Dukono pagi itu berubah kelabu. Pada 8 Mei 2026 pukul 07.41 WIT, gunung api aktif di Halmahera Utara itu memuntahkan kolom abu vulkanik hingga sekitar 10 ribu meter di atas kawah. Material abu menyelimuti lereng dan hutan di sekitar gunung, membuat jarak pandang menurun dan kawasan sekitar berubah mencekam.

Di tengah situasi yang bahkan alam sendiri sulit diprediksi itu, tim penyelamat mulai bergerak naik menuju kawasan rawan erupsi. Radio komunikasi bersahutan pendek. Langkah para personel berjalan hati-hati di jalur vulkanik yang tertutup abu.

Dan di antara tim itu, ada seorang pria yang terus berada dalam koordinasi lapangan: Hentje M.L. Hetharia.

Sebagai Kepala Pelaksana BPBD Halmahera Utara, Hentje tidak memilih berada jauh dari lokasi operasi. Bersama tim SAR gabungan, aparat TNI-Polri, relawan, dan warga lokal, ia ikut mengawal proses pencarian korban di tengah ancaman erupsi susulan yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

Di kawasan seperti Dukono, ancaman tidak selalu terlihat. Kadang hanya suara gemuruh pendek dari arah kawah yang membuat seluruh tim berhenti sejenak sebelum kembali bergerak.

Hujan turun berkali-kali selama operasi berlangsung. Material pasir vulkanik menimbun area pencarian dan membuat proses evakuasi berjalan lambat serta penuh risiko.

Pada 9 Mei 2026 pukul 14.30 WIT, tim SAR gabungan akhirnya menemukan korban pertama sekitar 50 meter dari bibir kawah Gunung Dukono. Saat ditemukan, tubuh korban masih tertimbun material vulkanik.

Operasi sempat dihentikan sementara akibat cuaca buruk dan meningkatnya aktivitas vulkanik. Namun begitu kondisi memungkinkan, tim kembali naik melanjutkan pencarian.

Dalam situasi seperti itulah, keputusan-keputusan di lapangan menjadi sangat penting. Keselamatan personel harus dijaga. Evakuasi korban tetap harus berjalan. Dan tidak boleh ada nyawa lain yang hilang di tengah operasi penyelamatan.

Di lereng Dukono, operasi kemanusiaan itu tidak hanya dijalankan aparat dan petugas resmi negara.

Sejumlah warga lokal ikut bergerak bersama tim evakuasi. Kiril Tatambane, Rustamin Juanga, Nailul Aurat Serang, Hardy Diadi, hingga Mohammad Sanda menjadi bagian dari orang-orang yang membantu membuka jalur dan mendampingi proses pencarian korban di medan vulkanik yang berat.

Mereka bergerak di bawah koordinasi BPBD Halmahera Utara bersama tim SAR gabungan, membantu tim membaca medan dan memastikan proses pencarian tetap berjalan di kawasan yang tidak mudah dijangkau.

Tidak ada sorotan besar di sana. Hanya abu vulkanik, hujan, dan orang-orang yang tetap bertahan menjalankan operasi kemanusiaan.

Namun jauh sebelum tragedi Dukono terjadi, Hentje M.L. Hetharia bersama BPBD Halmahera Utara sudah lebih dulu berada di garis depan bencana lain di wilayah Loloda Utara.

Pada 10 Januari 2026, Desa Doitia diterjang banjir dan tanah longsor. Air setinggi sekitar 30 hingga 50 sentimeter masuk ke rumah warga setelah Sungai Doitia tersumbat longsoran tanah dan kayu besar yang terbawa arus. Lumpur menutup jalan desa. Sebagian warga terjebak di rumah mereka sendiri.

Tak menunggu lama, tim gabungan diberangkatkan dari Pelabuhan Tobelo menggunakan KM SAR 237 Pandudewanata menuju lokasi bencana. Tim tiba di Desa Doitia pukul 18.33 WIT dan langsung memulai penanganan darurat bersama personel gabungan BPBD, TNI, Polri, Tagana, PMI, tenaga kesehatan, dan relawan.

Lumpur masih menempel di dinding rumah warga ketika proses pembersihan mulai dilakukan keesokan harinya. Rumah-rumah dibersihkan, drainase dibuka, sumur warga dipulihkan agar masyarakat kembali mendapat akses air bersih, logistik terus disalurkan dan seluruh pekerjaan dilakukan di tengah cuaca yang masih tidak menentu.

Bagi warga Doitia, yang paling mereka ingat bukan hanya bantuan yang datang. Tetapi kehadiran orang-orang yang memilih tetap berada bersama masyarakat di tengah situasi sulit.

“Waktu banjir itu “torang so rasa seperti sendiri di sini” (kami sudah merasa seperti sendiri di sini). Air masuk di rumah cepat sekali. Tapi waktu tim datang deng BPBD, “torang” (kami) mulai rasa tenang karena bantuan benar-benar datang.” Warga Desa Doitia.

Warga lainnya masih mengingat bagaimana tim gabungan bekerja hampir tanpa henti sejak tiba di desa mereka.

“Mereka bukan cuma datang lihat-lihat lalu pulang. Mereka ikut bantu bersihkan rumah, cek sumur warga, kasih semangat juga. Itu yang masyarakat ingat.” lanjut Warga.

Kerja-kerja kemanusiaan seperti itu kemudian mendapat apresiasi dari Bupati Halmahera Utara, Piet Hein Babua.

“Dalam situasi seperti ini, yang dibutuhkan masyarakat bukan hanya kecepatan birokrasi, tetapi kehadiran nyata di lapangan. Saya melihat langsung bagaimana BPBD Halmahera Utara bekerja tanpa mengenal waktu, turun bersama tim gabungan, memastikan proses evakuasi dan penanganan berjalan cepat serta tetap mengutamakan keselamatan masyarakat maupun personel.” ucap Piet.

Bupati juga memberi apresiasi kepada seluruh unsur yang terlibat dalam operasi kemanusiaan di Halmahera Utara.

“Saya memberi apresiasi tinggi kepada seluruh tim BPBD, relawan, TNI-Polri, tenaga kesehatan, hingga warga lokal yang ikut membantu proses kemanusiaan di lapangan. Mereka bekerja dalam situasi yang tidak mudah, mulai dari banjir di Loloda Utara sampai operasi evakuasi di kawasan erupsi Gunung Dukono.” tutur Piet.

Di daerah seperti Halmahera Utara, bencana mungkin akan terus datang bersama hujan, laut, dan gunung api yang hidup berdampingan dengan masyarakatnya.

Tetapi bagi warga yang pernah kehilangan rumah, menunggu kabar keluarga, atau bertahan di pengungsian, ada satu hal yang tidak mudah mereka lupakan: seseorang tetap datang ketika keadaan belum aman.

Dan dalam banyak operasi kemanusiaan itu, nama Hentje M.L. Hetharia hadir bukan sebagai simbol kekuasaan, melainkan sebagai bagian dari orang-orang yang memilih tetap berada di lokasi ketika sebagian lainnya memilih menjauh. (ask)

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *