KIERAHAINSIGHT.ID | Di tengah perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, masyarakat Desa Samuda, Kecamatan Galela Barat, Kabupaten Halmahera Utara (Halut), memilih menyampaikan kebutuhan yang lebih konkret: jalan, jembatan, dan perlindungan kawasan dari longsor.
Tiga aspirasi pembangunan itu disampaikan warga kepada DPC Partai Demokrat Halut melalui agenda reses di Desa Samuda, Senin (17/8/2026). Salah satu yang dinilai strategis ialah akses menuju Kali Ira sepanjang sekitar enam kilometer yang menjadi penghubung empat desa dan membutuhkan pembangunan jembatan sekitar 30 meter.
Ketua DPC Partai Demokrat Halut, Janlis G. Kitong, mengatakan sedikitnya tiga aspirasi utama disampaikan masyarakat dalam agenda tersebut. Ketiganya berkaitan langsung dengan kebutuhan infrastruktur dan konektivitas antarwilayah.
Aspirasi pertama adalah pembangunan dan peningkatan ruas jalan menuju Kali Ira. Jalan tersebut menjadi akses penting yang menghubungkan Desa Samuda, Soatobaru, Dokulamo, dan Bale.
Dengan panjang sekitar enam kilometer, ruas tersebut juga memiliki kebutuhan pembangunan jembatan sepanjang kurang lebih 30 meter.
“Jalan menuju Kali Ira ini menjadi akses empat desa, yaitu Samuda, Soatobaru, Dokulamo dan Bale. Panjangnya sekitar enam kilometer dan ada jembatan sekitar 30 meter,” ujar Janlis.
Selain pembangunan akses menuju Kali Ira, masyarakat mengusulkan pengaspalan hotmix sepanjang sekitar dua kilometer.
Usulan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas permukaan jalan sekaligus mendukung kelancaran mobilitas masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Sementara aspirasi ketiga adalah pembangunan talud atau penahan longsor di sejumlah titik di Desa Samuda.
Infrastruktur tersebut dinilai dibutuhkan untuk mengantisipasi potensi longsor sekaligus memberikan perlindungan terhadap akses transportasi dan lingkungan permukiman masyarakat.
“Selain itu ada usulan hotmix dua kilometer dan penahan longsor di Desa Samuda. Tiga usulan ini disampaikan masyarakat dan nantinya akan kami usulkan ke DPP Demokrat,” jelas Janlis.
Janlis menegaskan, reses tidak hanya dimaknai sebagai ruang untuk mendengarkan keluhan masyarakat. Forum tersebut juga menjadi bagian dari proses menghimpun kebutuhan warga untuk kemudian diperjuangkan melalui jalur kelembagaan partai.
Ia mengatakan, seluruh aspirasi yang telah disampaikan masyarakat akan dihimpun dan selanjutnya diupayakan untuk diteruskan melalui struktur Partai Demokrat hingga ke tingkat Dewan Pimpinan Pusat (DPP).
“Kami berharap usulan-usulan ini bisa mendapat dukungan dan ditindaklanjuti, terutama pembangunan akses yang menghubungkan empat desa di Galela Barat,” katanya.
Menurut Janlis, pembangunan akses penghubung antardesa memiliki arti penting bagi masyarakat. Jalan tidak hanya menjadi sarana transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari konektivitas yang menunjang aktivitas sosial dan ekonomi warga.
Karena itu, kebutuhan terhadap peningkatan ruas jalan menuju Kali Ira, pembangunan jembatan, pengaspalan hotmix, hingga talud penahan longsor menjadi aspirasi yang dinilai perlu mendapat perhatian.
Agenda reses di Desa Samuda berlangsung bertepatan dengan momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-25 Partai Demokrat.
Momentum tersebut dimanfaatkan untuk memperkuat komunikasi antara masyarakat dan jajaran partai, terutama dalam menyerap berbagai kebutuhan pembangunan yang dirasakan langsung oleh warga.
Pelaksanaan kegiatan itu juga disebut sebagai tindak lanjut instruksi Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), kepada jajaran partai untuk melibatkan masyarakat dalam berbagai kegiatan dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI sekaligus HUT ke-25 Partai Demokrat.
Bagi masyarakat Desa Samuda, forum tersebut menjadi kesempatan untuk menyampaikan kebutuhan pembangunan secara langsung.
Sementara bagi DPC Partai Demokrat Halut, aspirasi yang disampaikan warga menjadi bahan untuk dihimpun, dikawal, dan diperjuangkan melalui jalur kelembagaan yang tersedia.
Tiga usulan utama, akses jalan menuju Kali Ira beserta pembangunan jembatan, pengaspalan hotmix sekitar dua kilometer, serta pembangunan talud penahan longsor—kini menjadi aspirasi masyarakat yang akan dibawa Partai Demokrat Halut ke tingkat yang lebih tinggi.
Di tengah peringatan kemerdekaan, suara warga Samuda menunjukkan bahwa makna pembangunan tidak berhenti pada seremoni. Bagi masyarakat, kemerdekaan juga berarti hadirnya akses yang lebih baik, konektivitas antarwilayah yang semakin kuat, serta infrastruktur yang mampu menunjang kehidupan sehari-hari.
Jika aspirasi tersebut dapat ditindaklanjuti sesuai kewenangan dan mekanisme yang berlaku, pembangunan akses di Galela Barat diharapkan tidak hanya memperlancar mobilitas warga, tetapi juga membuka ruang yang lebih besar bagi aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat di empat desa yang terhubung melalui ruas Kali Ira. (ask)














