KIERAHAINSIGHT.ID | Panggung Festival Keanekaragaman Hayati Maluku Utara (KEHATIMU) ke-4 di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, menjadi ruang bagi generasi muda untuk menyuarakan pentingnya menjaga lingkungan. Sebanyak tujuh kelompok teater pelajar dari jenjang SMP, MTs, SMA hingga SMK se-Kabupaten Halmahera Utara akan beradu kreativitas dalam pentas teater yang berlangsung 3–5 September 2026.
Rangkaian pentas tersebut dipusatkan di Rumah Adat Hibualamo, Kecamatan Tobelo, salah satu ruang budaya penting di Kabupaten Halmahera Utara. Dari panggung tersebut, para pelajar tidak hanya mempertontonkan kemampuan seni peran, tetapi juga membawa pesan tentang keanekaragaman hayati, satwa endemik, serta pentingnya menjaga habitat alam.
Kompetisi berlangsung dalam dua gelombang penyisihan pada Kamis dan Jumat malam. Peserta yang berhasil melewati babak penyisihan kemudian akan tampil pada babak final, Sabtu malam, 5 September 2026.
Ketua Panitia KEHATIMU ke-4, Tjut F Bangun, menegaskan kompetisi teater dirancang bukan sekadar untuk memperebutkan penghargaan, melainkan sebagai medium edukasi konservasi melalui seni.
“Panggung teater dan seluruh lomba di KEHATIMU ini bukan sekadar mengejar piala. Kami ingin adik-adik pelajar menyampaikan jeritan alam dan pesan konservasi lewat ekspresi seni yang menyentuh hati masyarakat,” ujar Tjut, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, penggunaan nama satwa endemik oleh sejumlah kelompok peserta menjadi tanda positif tumbuhnya kepedulian generasi muda terhadap kekayaan alam Maluku Utara.
“Melihat nama-nama kelompok teater yang mengusung nama satwa endemik seperti Semioptera wallaci dan Phalanger matabiru, kita tahu bahwa rasa memiliki terhadap kekayaan alam Maluku Utara mulai tumbuh kuat di jiwa generasi muda,” tambahnya.
Koordinator Halmahera Burung Indonesia, Benny Siregar, mengatakan keterlibatan pelajar dalam kampanye konservasi memiliki arti penting. Satwa endemik yang habitatnya menghadapi berbagai tekanan, kata dia, tidak dapat menyampaikan sendiri ancaman yang mereka hadapi.
“Spesies endemik seperti Bidadari Halmahera dan Kuskus Mata Biru tidak bisa bersuara ketika rumah mereka terancam. Melalui festival inilah kita dan para generasi muda menjadi penyambung lidah bagi kelestarian mereka,” tegas Benny.
Pesan konservasi itu kemudian diterjemahkan para pelajar melalui cerita, dialog, karakter, gerak, dan ekspresi panggung. Dengan pendekatan seni, isu keanekaragaman hayati diharapkan menjadi lebih dekat dengan masyarakat dan mudah dipahami oleh generasi muda.
Tujuh kelompok peserta dijadwalkan tampil dalam dua malam babak penyisihan.
Kamis, 3 September 2026:
- 21.00 WIT: Kelompok Maleu – SMP 1
- 22.00 WIT: Kelompok Kakatua Putih – SMAN 6 Tobelo
- 23.00 WIT: Kelompok Kuso alhaq – SMK Alkhairat Tobelo
Jumat, 4 September 2026:
- 21.00 WIT: Kelompok Pitta maxima – MTs Negeri 3 Halut
- 22.00 WIT: Utusan SMAN 9 Halut
- 23.00 WIT: Kelompok Semioptera wallaci – SMK Alkhairat Tobelo
- 00.00 WIT: Kelompok Phalanger matabiru – SMAN 1 Tobelo
Peserta yang lolos dari masing-masing babak penyisihan akan kembali tampil pada babak final, Sabtu, 5 September 2026, yang dijadwalkan berlangsung mulai pukul 22.00 WIT dan 23.00 WIT.
Pemilihan Rumah Adat Hibualamo sebagai lokasi kegiatan memberikan nuansa tersendiri bagi pentas KEHATIMU. Ruang budaya tersebut menjadi titik temu antara ekspresi seni generasi muda dan pesan tentang keberlanjutan lingkungan.
Di tengah kekayaan hayati Maluku Utara yang menjadi bagian penting dari identitas kawasan, keterlibatan pelajar dalam Festival KEHATIMU menunjukkan bahwa konservasi dapat disampaikan melalui cara yang kreatif dan dekat dengan kehidupan masyarakat.
Masyarakat umum, orang tua, serta pendukung dari masing-masing sekolah diundang hadir menyaksikan langsung penampilan para peserta di Rumah Adat Hibualamo, Kecamatan Tobelo.
Dari panggung itu, para pelajar membawa satu pesan yang sama: menjaga keanekaragaman hayati bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau pegiat lingkungan, tetapi juga tanggung jawab generasi yang akan mewarisi alam Maluku Utara. (khi)














