KIERAHAINSIGHT.ID | Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menegaskan pembangunan olahraga nasional harus melampaui orientasi pada prestasi atlet. Pada peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) ke-43, pemerintah mendorong olahraga menjadi budaya hidup untuk membentuk masyarakat yang aktif, bugar dan produktif.
Pesan itu disampaikan Erick dalam amanat resmi Haornas 2026 yang tercantum dalam Surat Edaran Kementerian Pemuda dan Olahraga Nomor B/BO.04/9.7.43/MPO/IX/2026 tentang Penyelenggaraan Upacara Peringatan Hari Olahraga Nasional ke-43 Tahun 2026.
Mengusung tema “Menuju Masyarakat Aktif dan Bugar!”, Haornas tahun ini diarahkan menjadi gerakan nasional sekaligus bagian dari agenda pembangunan.
“Olahraga adalah investasi bangsa, bukan biaya.”
Erick mengatakan investasi olahraga berarti membangun manusia Indonesia secara utuh. Selain membentuk karakter disiplin, tangguh, sportif dan memiliki daya juang, olahraga juga menjadi investasi kesehatan agar masyarakat lebih bugar, produktif dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.
Erick menyampaikan lima arah utama pembangunan olahraga nasional.
Pertama, pemerintah harus menempatkan olahraga sebagai bagian dari pembangunan kesehatan dan kualitas sumber daya manusia. Upaya menjaga masyarakat tetap sehat dinilai harus dilakukan sebelum persoalan kesehatan muncul.
Kedua, pemerintah daerah diminta menjadi motor utama gerakan masyarakat aktif dan bugar. Pemerintah daerah harus memastikan tersedianya ruang publik, fasilitas olahraga, jalur pejalan kaki dan jalur bersepeda, serta program olahraga yang mudah, murah, aman dan inklusif.
Ketiga, olahraga harus hadir dalam kehidupan sehari-hari. Car Free Day didorong menjadi ruang membangun budaya masyarakat aktif, bukan sekadar agenda seremonial.
Keempat, keberhasilan pembangunan olahraga tidak cukup diukur dari banyaknya event.
“Kita ukur keberhasilan bukan dari banyaknya event, tetapi dari perubahan perilaku masyarakat,” tegas Erick.
Pemerintah, lanjutnya, harus memiliki data mengenai jumlah masyarakat yang aktif, masyarakat yang rutin berolahraga serta perkembangan tingkat kebugaran sebagai dasar penyusunan kebijakan.
Kelima, olahraga harus dibangun secara inklusif dan berkeadilan. Anak-anak, pemuda, perempuan dan laki-laki, lansia, masyarakat perdesaan dan perkotaan, hingga penyandang disabilitas harus memperoleh kesempatan yang sama untuk berolahraga.
Erick menegaskan olahraga masyarakat dan olahraga prestasi tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.
Menurut dia, atlet berprestasi lahir dari lingkungan masyarakat yang memiliki budaya olahraga. Karena itu, budaya olahraga, prestasi olahraga dan industri olahraga harus dibangun dalam satu ekosistem.
“Tidak perlu menunggu. Tidak perlu mahal. Tidak perlu rumit. Mulailah bergerak dari sekarang,” ajaknya.
Aktivitas sederhana seperti berjalan, berlari, bersepeda dan senam bersama dapat menjadi awal membangun kebiasaan hidup aktif sesuai kemampuan masing-masing.
Erick mengajak pemerintah daerah, dunia pendidikan, dunia usaha, organisasi olahraga, komunitas, keluarga dan seluruh masyarakat bergerak bersama.
“Indonesia yang bugar tidak dibangun oleh satu kementerian. Indonesia yang bugar dibangun oleh seluruh bangsa.”
Haornas ke-43 akhirnya tidak hanya menjadi peringatan tahunan, tetapi momentum untuk mengubah budaya olahraga nasional: dari pasif menjadi aktif, dari aktif menjadi bugar, dari bugar menjadi produktif, dan dari produktif menuju Indonesia yang semakin kuat. (khi)














