NGONE O RIA DODOTO: Apresiasi dan Tetesan Harapan di Perayaan HUT ke-23 Halmahera Utara

Oleh: Ir. Jesaya R. Banari (Budayawan Senior & Saksi Sejarah Bumi Hibualamo)

banner 120x600

KIERAHAINSIGHT.ID | TOBELO – ​Hari-hari ini, di masa senja hidup, saya sering kali didera oleh sebuah rasa sunyi yang mencekam. Sunyi itu tidak datang dari keheningan malam di Tobelo, melainkan dari kegelapan yang perlahan merayap dan mengikis pondasi peradaban kita: Bumi Hibualamo.

​Saya gelisah. Dada saya sesak setiap kali melangkah masuk ke dalam rumah adat kita yang agung. Bangunan segi delapan itu didirikan oleh darah, air mata, dan kecerdasan luar biasa para leluhur Hibualamo. Ia adalah simbol demokrasi tertua, ruang inklusivitas tanpa kasta, dan sebuah manifesto perdamaian dunia yang tertuang dalam sumpah abadi kita bersama: “ngone o ria dodoto”.

​Namun apa yang kita lihat hari ini❓️

​Hibualamo telah direduksi. Ia digiring secara paksa menjadi sekadar komoditas pajangan yang berdebu. Kita hanya mengingatnya saat ada seremoni politik, saat pejabat butuh panggung foto, atau saat turis asing menurunkan lensa kameranya. Setelah tepuk tangan riuh itu usai, Hibualamo kembali sunyi, ditinggalkan, dan dilupakan.

​Identitas kita sedang mengalami erosi massal. Anak-anak muda Tobelo, Galela, Loloda, dan seluruh pelosok Halmahera Utara kini lebih fasih meniru budaya hambar dari balik layar gawai mereka ketimbang menyanyikan lagu tanah airnya sendiri. Alunan magis Musik Bambu Nada yang dulu mengguncang panggung Eropa kini jarang terdengar. Petikan senar Yangere perlahan mati di sudut-subut kampung. Bahasa ibu luntur dari lidah generasi penerus.

​Kita sedang mengalami amnesia budaya. Kita merasa daerah ini sedang membangun karena ruko-ruko beton tumbuh tinggi, padahal disaat yang sama, kita sedang mengubur identitas yang membuat kita berharga di mata dunia. Ini bukan sekadar hilangnya kesenian; ini adalah kematian perlahan daya tawar internasional Halmahera Utara!

​Namun, di tengah pekatnya kegelisahan itu, momentum sejarah hari ini memanggil kita untuk kembali tegak berdiri.

​”Selamat Hari Ulang Tahun ke-23 Kabupaten Halmahera Utara. Dua puluh tiga tahun kita berlayar sebagai sebuah daerah, dan di hari yang bersejarah ini, dari lubuk hati yang paling dalam, saya ingin menghaturkan rasa apresiasi dan rasa hormat yang setinggi-tingginya kepada nakhoda baru kita: Bupati Dr. Piet Hein Babua dan Wakil Bupati Dr. Kasman Hi. Ahmad.”

​Sebagai seorang budayawan yang telah melihat pasang surutnya tanah ini, kehadiran pasangan PIET-KASMAN di tampuk kepemimpinan adalah sebuah berkah intelektual dan kultural yang monumental bagi Bumi Hibualamo. Mereka bukan politisi instan; mereka adalah kombinasi langka antara kematangan birokrasi, ketajaman akademis, dan kepekaan emosional yang tulus terhadap akar rumput. Di pundak merekalah, harapan yang sempat meredup kini kembali menemukan pemantiknya.

​Kepada kedua pemimpin kami, Dr. Piet Hein Babua dan Dr. Kasman Hi. Ahmad, bersama ucapan selamat dan rasa bangga ini, saya menitipkan Harapan Tertinggi Suku Bangsa Hibualamo.

​Saya meminta❓️bukan, saya menitipkan mandat suci Anda berdua untuk menjadikan masa pemerintahan ini sebagai Era Kebangkitan Besar (The Great Renaissance) Kebudayaan Halmahera Utara. Mari kita buktikan bahwa branding daerah ini bisa menyala kembali dan takkan pernah redup lagi melalui tiga mandat taktis:

​1. Amankan Ruh Hibualamo dalam Kebijakan (Visual Rebranding)

​Jangan biarkan pembangunan fisik Halut menjadi hambar dan seragam dengan daerah lain. Saya berharap di bawah PIET-KASMAN, ada regulasi ketat yang mewajibkan penerapan identitas visual dan sacred geometry segi delapan Hibualamo pada setiap arsitektur bangunan pemda, fasilitas publik, tata kota, hingga dokumen digital resmi daerah. Identitas kita harus terlihat dan berwibawa!

​2. Merawat Kesucian Ruh Hibualamo: Mata Air yang Tak Boleh Keruh

​Rumah agung Hibualamo bukanlah panggung hiburan yang fana, bukan pula ruang eksperimen tempat kita bisa secara bebas mengotak-atik warisan leluhur atas nama modernisasi. Harapan besar saya kepada pemerintahan PIET-KASMAN adalah menjaga tempat suci ini agar tetap berdiri utuh dengan ruhnya yang murni, sakral, dan steril dari kontaminasi budaya kontemporer yang berpotensi meluluhkan nilai-nilai aslinya.

​Generasi muda kita undang melangkah masuk ke pelataran Hibualamo bukan untuk merombak atau mewarnai ulang tradisi dengan tren luar, melainkan untuk duduk menundukkan kepala, mereguk jernihnya falsafah hidup, dan menginternalisasi jati diri asli mereka yang sesungguhnya. Kita ingin anak-anak muda kita tumbuh menjadi manusia modern yang berpikiran global, namun jiwanya tetap berakar kuat pada kesucian adat leluhur. Inilah prinsip hidup yang harus kita tancapkan bersama:

​”Bangga melestarikan budaya, bahagia dibesarkan adat.”

​3. Selamatkan Manuskrip dan Bahasa Ibu (Digitalisasi Budaya)

​Sebelum seluruh ingatan para tetua adat terkubur bersama tanah, saya berharap pemerintah PIET-KASMAN bergerak cepat melakukan penyelamatan sejarah. Alihkan semua riset, buku “Mencari yang Pernah Hilang”, dan hukum adat kita ke dalam format digital (E-book, dokumenter, arsip siber) serta integrasikan ke dalam kurikulum wajib sekolah di Halmahera Utara.

​Tulisan ini adalah sebuah sumpah dari seorang budayawan sepuh yang mencintai tanah ini tanpa syarat. Saya tidak ingin berlalu dalam keadaan melihat budaya saya menjadi abu. Saya ingin melihatnya kembali menjadi api yang membakar semangat dunia!

​Kepada para birokrat di jajaran dinas, para seniman, para jurnalis, dan terkhusus anak-anak muda di Bumi Hibualamo: Angkat dagumu, pasang perisai Salawaku-mu, dan berhentilah menjadi bangsa yang minder! Budaya kita terlalu indah untuk disembunyikan dalam kesunyian.

​Bupati dan Wakil Bupati kita, Dr. Piet Hein Babua dan Dr. Kasman Hi. Ahmad, telah memegang kemudi. Mari kita, seluruh rakyat Halmahera Utara, berbaris di belakang mereka membawa obor kebudayaan yang menyala-nyala.

​Kita pernah menaklukkan panggung mancanegara dengan keagungan budaya kita, dan demi darah leluhur yang mengalir di tubuhmu, kita pasti bisa melakukannya lagi!

​Nyalakan apimu. Hentakkan kakimu. Bumikan kembali Hibualamo!

​”ngone o ria dodoto”! Bersatu, Bangkit, dan Menang! (ask)

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *