Tim DVI Polda Malut Temukan Dugaan Rahang Dua WNA Korban Erupsi Dukono

banner 120x600

kierahainsight.id | Halut — Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Maluku Utara berhasil menemukan dugaan tulang rahang milik dua warga negara asing (WNA) korban erupsi Gunung Dukono setelah melakukan proses pemilahan serpihan tulang yang bercampur material abu vulkanik.

Serpihan tersebut sebelumnya berhasil dievakuasi Tim SAR gabungan dari kawasan erupsi Gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara. Proses pemeriksaan dan identifikasi dilakukan di RSUD Tobelo, Senin (11/5).

Keterangan itu disampaikan langsung Wakapolda Maluku Utara Brigjen Pol. Stephen M. Napiun kepada awak media di RSUD Tobelo. Dalam kesempatan tersebut, Wakapolda didampingi Bupati Halmahera Utara Dr. Piet Hein Babua, Kapolres Halmahera Utara AKBP Erlichson Pasaribu, Kepala Dinas Kesehatan Halmahera Utara dr. Selpianus H. Kaya, serta Wakil Direktur Diklat, Kerja Sama, Humas dan Sistem Informasi RSUD Tobelo dr. Janta Bony.

“Kami menemukan serpihan tulang yang kondisinya sudah tidak utuh lagi,” ujar Stephen.

Menurutnya, kondisi korban mengalami kerusakan berat akibat paparan langsung material vulkanik panas saat erupsi terjadi di kawasan kawah Gunung Dukono.

“Namun tim juga menemukan bagian rahang, dan itu menjadi titik awal untuk proses identifikasi melalui tes DNA,” katanya.

Stephen menjelaskan, hingga saat ini tim DVI masih bekerja memastikan identitas masing-masing korban yang diduga mengarah kepada Timothy maupun Shahin.

“Karakteristik wajah setiap orang tentu berbeda sehingga identifikasi harus dilakukan secara ilmiah,” jelasnya.

Ia mengatakan, kondisi korban yang terkena langsung material vulkanik panas membuat identifikasi tidak dapat dilakukan hanya melalui pengenalan fisik.

“Tadinya kami berharap kondisi korban lebih utuh, tetapi situasi di lapangan memang sangat berat akibat material vulkanik panas,” ungkap Stephen.

Pemerintah Indonesia bersama perwakilan Singapura, lanjut dia, juga telah menyepakati mekanisme penyerahan korban kepada pihak keluarga setelah seluruh proses identifikasi selesai dilakukan.

“Nanti setelah semuanya terang dan jelas, pihak keluarga akan menerima secara resmi melalui tim medis Rumah Sakit Umum Daerah Tobelo,” ujarnya.

Berdasarkan keterangan saksi selamat bernama Reza, kedua korban diduga terkena langsung lontaran batu vulkanik saat berada sangat dekat dengan kawah Gunung Dukono.

Material yang menghantam korban disebut berupa batu vulkanik berdiameter sekitar dua meter dengan suhu yang diperkirakan mencapai 700 derajat Celsius.

Dalam situasi tersebut, Timothy disebut sempat berusaha menyelamatkan Shahin.

“Korban sempat ingin menolong rekannya dan melakukan cardiopulmonary resuscitation atau CPR sebelum akhirnya tertimpa debu serta batu vulkanik panas,” kata Stephen.

Wakapolda juga mengungkapkan bahwa pihaknya telah bertemu langsung dengan keluarga korban yang masih terpukul atas tragedi tersebut.

“Kami juga sudah bertemu dengan keluarga korban. Mereka masih sangat terpukul dan belum sanggup melihat kondisi jenazah,” katanya.

Proses pemeriksaan DNA diperkirakan memakan waktu sekitar dua minggu. Meski demikian, pihak kepolisian berupaya mempercepat proses identifikasi agar kepastian identitas korban segera diterima keluarga.

Di sisi lain, polisi juga masih mendalami kronologi pendakian yang dilakukan saat status Gunung Dukono berada pada Level II atau waspada.

“Ketika status gunung berada pada Level II, seharusnya ada batas aman yang tidak boleh dilanggar,” tegas Stephen.

Polisi saat ini juga tengah mendata sejumlah aktivitas open trip lain yang diduga membuka jasa pendakian secara perorangan untuk menawarkan layanan pendakian ke kawasan Gunung Dukono. (ask)

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *