Sang Maradona dari Utara: Di Antara Kecepatan, Tekanan, dan Harapan Halmahera

banner 120x600

kierahainsight.id | Halut – Pagi di Tobelo sering dimulai lebih cepat dari jam kerja resmi. Di sebuah ruang kantor yang tak pernah benar-benar lengang, Piet Hein Babua sudah lebih dulu menatap tumpukan agenda. Telepon berdering. Berkas datang silih berganti. Di sela itu, keputusan harus diambil cepat, tepat, tanpa banyak ruang untuk ragu.

Di Halmahera Utara, orang-orang punya cara sendiri untuk menggambarkan ritme itu. Mereka menyebutnya: Sang Maradona. Sebuah julukan yang, bagi sebagian orang, terdengar terlalu jenaka untuk seorang kepala daerah. Tapi bagi mereka yang pernah bekerja bersamanya, justru di situlah letak akurasinya.

Kecepatan yang Membentuk Reputasi

Julukan itu lahir jauh sebelum ia duduk di kursi bupati. Saat masih menjadi Sekretaris Daerah, Piet dikenal sebagai sosok yang tidak menunggu masalah selesai ia mendahuluinya.

Dalam rapat-rapat panjang birokrasi yang kerap berputar di tempat, ia justru memotong jalur. Mengambil keputusan saat orang lain masih menimbang. “Dia seperti sudah melihat dua langkah ke depan,” kenang kolega lama.

Perbandingan dengan Diego Maradona bukan tanpa alasan. Di lapangan hijau, Maradona dikenal bukan hanya karena bakat, tetapi karena kemampuannya mengubah arah permainan dalam satu momen singkat. Di birokrasi Halmahera Utara, Piet memainkan peran serupa mengatur tempo, mempercepat ritme, dan kadang, memaksa sistem untuk ikut bergerak.

Dari Fondasi ke Kendali

Perjalanan itu bermula ketika ia menjadi bagian penting dalam pemerintahan awal Halmahera Utara, mendampingi Hein Namotemo. Saat itu, Halmahera Utara bukan sekadar daerah otonom baru ia adalah wilayah yang sedang mencari bentuk. Struktur pemerintahan masih cair, sistem belum sepenuhnya mapan.

Di tengah situasi itu, Piet belajar satu hal: kecepatan bukan pilihan, melainkan kebutuhan. Kini, bertahun-tahun setelah fondasi itu diletakkan, ia berada di posisi yang berbeda bukan lagi perancang di balik layar, melainkan pengendali utama.

Memimpin di Era Tekanan

Menjadi bupati hari ini bukan perkara sederhana. Ketika Piet Hein Babua mulai memimpin, situasi tidak sepenuhnya ideal. Kebijakan efisiensi dari pemerintah pusat membatasi ruang gerak anggaran. Di sisi lain, ekspektasi publik justru meningkat jalan harus diperbaiki, layanan harus ditingkatkan, ekonomi harus bergerak.

Di titik inilah gaya “Maradona” diuji. Keputusan cepat bisa menjadi solusi. Tapi di saat yang sama, ia juga menyimpan risiko. Terlalu cepat, bisa dianggap terburu-buru. Terlalu hati-hati, bisa dianggap lambat. Piet memilih jalannya sendiri: tetap bergerak.

Duet yang Mencari Keseimbangan

Di sampingnya, ada Kasman Hi Ahmad, seorang akademisi yang datang dengan pendekatan berbeda. Jika Piet mengandalkan insting dan pengalaman birokrasi, Kasman membawa kerangka berpikir yang lebih sistematis dan terukur.

Perbedaan ini menghadirkan dinamika tersendiri. Tapi justru di situlah keseimbangan dibangun. Satu mendorong percepatan. Satu memastikan arah tetap terjaga.

Perubahan yang Terasa, Bukan Sekadar Terlihat

Dalam satu tahun, perubahan mulai terasa di Halmahera Utara. Jalan-jalan yang dulu sulit dilalui perlahan terbuka. Akses transportasi lebih tertata. Aktivitas ekonomi bergerak lebih dinamis. Namun perubahan paling penting justru sering tak kasatmata.

Di tingkat akar, pemerintah mulai mendorong hilirisasi kelapa komoditas lama yang kini dicoba diberi nilai baru. Di sektor kesehatan, layanan BPJS perlahan dibenahi. “Perubahan itu tidak selalu besar, tapi terasa,” kata Hen Rajawange di Tobelo.

Kalimat itu mungkin sederhana, tapi di daerah, rasa sering kali lebih penting daripada angka.

Taruhan Besar: Layanan Kesehatan

Langkah paling ambisius datang dari kerja sama dengan PT Nusa Halmahera Minerals. Rencana pembangunan rumah sakit umum menjadi lebih dari sekadar proyek infrastruktur. Ia adalah taruhan besar—tentang bagaimana negara hadir lebih dekat kepada masyarakat.

Di wilayah kepulauan seperti Halmahera Utara, jarak bukan sekadar angka di peta. Ia bisa berarti waktu, biaya, bahkan keselamatan. Sebuah rumah sakit baru, bagi banyak orang, adalah perbedaan antara harapan dan keterlambatan.

Di Antara Julukan dan Kenyataan

Julukan “Sang Maradona” mungkin akan terus melekat. Ia mudah diingat, kuat secara simbolik, dan memberi warna pada sosok Piet Hein Babua.

Namun di balik itu, ada kenyataan yang lebih kompleks. Memimpin daerah bukan tentang satu momen gemilang, melainkan tentang konsistensi menjaga ritme hari demi hari, keputusan demi keputusan.

Di Halmahera Utara, permainan itu masih berlangsung. Dan seperti dalam sepak bola, tidak semua pertandingan dimenangkan dengan indah. Tapi selama bola terus bergerak, selalu ada peluang untuk mencetak gol berikutnya. (*)

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *